( Oleh Akhmad Saputra Syarif Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar )
Sekolah sebuah tempat yang tidak asing buat kita semua, Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa (atau "murid") di bawah pengawasan guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib begitu pula di Indonesia, sudah sejak lama pemerintah negeri ini mencoba untuk meperbaiki nilai pendidikan dengan berbagai kebijakan dan peraturan namun sampai sekarang jawaban dari segala hal tersebut adalah belum cukup. Sekolah yang seharusnya membuat siswa menjadi aktif dalam memburu ilmu pengetahuan ternyata gagal dalam perannya tersebut, sehingga sekolah yang diharapkan menghasilkan generasi – generasi penerus yang kritis dan inovatif malah menghasilkan generasi – generasi yang monotan dan tidak fleksibel. Itu semua disebabkan karena pola pendidikan yang kurang baik sehinngga tidak salah bila dikatakan sekolah menciptaan robot bukan manusia yang kreatif dan inovatif.
Ironis, memang. Pendidikan yang seharusnya fitrah bagi manusia, justru dijadikan alat untuk ‘pemaksaan kehendak’, penanaman jiwa budak istilahnya. Padahal, dengan pendidikan seharusnya masyarakat menjadi manusia yang berjiwa merdeka secara utuh. Baik merdeka secara lahir, secara batin, maupun secara pemikiran. Manusia merdeka yang bebas menyuarakan pendapat. Manusia merdeka yang bebas menjadi dirinya sendiri.
Manusia Indonesia produk pendidikan adalah manusia cerdas yang merdeka dalam upaya menjadi dirinya sendiri. proses dan pengalaman pendidikan yang memang harus dirasakan oleh peserta didik. Tidak cukup hanya menerima nilai. Pendidikan lebih dari itu, menemukan dan mengkonsepkan nilai yang kemudian ditaati dan dipatuhi. Suatu kata-kata yang prinsipil bagi penyelenggaraan pendidikan ala Ki Hadjar. Atau slogan yang sudah sangat dekat di telinga kita, ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Dimana guru berkewajiban membersamai peserta didik, baik di depannya untuk menjadi teladan, di tengah untuk memahami dan menyertai, serta di belakang untuk mendorong dan memotivasi.
Banyak alasan kenapa sekolah sering dikatakan pencipta “Robot” salah satunya adalah kesan sekolah untuk menjadi tempat nyaman terlewatkan, itulah mengapa sekarang hampir seluruh sekolah sampai – sampai untuk membuat pelajarnya tetap pada lokasi sekolah dinding pagar yang sangat tinggi dibangun mengelilingi sekolah, yang memberikan pengertian kepada kita bahwa sekarang pendidikan sepertinya bukan lagi menjadi sebuah kebutuhan yang disenangi untuk di pelajari namun sekarang pendidikan punya wajah baru yaitu sebuah kewajiban keras yang menuntut kita untuk menguasai seluruh pelajaran di sekolah dalam kurang waktu yang sangat singkat.
Tidak sampai disitu cerita ini, Ujian Nasional pun turut andil dalam menciptakan “Manusia – manusia robot negeri ini”. UN atau pada awalnya bernama Ujian Akhir Nasional (UAN) menjadi pengganti kebijakan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas). Dari hasil kajian Koalisi Pendidikan (Koran Tempo, 4 Februari 2005), setidaknya ada tiga alasanUjian Nasional (UN) dikatakan pembuat “Robot”. Pertama, aspek pedagogis. Dalam ilmu kependidikan, kemampuan peserta didik mencakup tiga aspek, yakni pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif). Tapi yang dinilai dalam UN hanya satu aspek kemampuan, yaitu kognitif, sedangkan kedua aspek lain tidak diujikan sebagai penentu kelulusan dan tahap pertama ini dengan sangat sukses membuat “ Manusia – manusi Robot”.
Kedua, aspek yuridis. Beberapa pasal dalam UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 telah dilanggar, misalnya pasal 35 ayat 1 yang menyatakan bahwa standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan, yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. UN hanya mengukur kemampuan pengetahuan dan penentuan standar pendidikan yang ditentukan secara sepihak oleh pemerintah. Pasal 58 ayat 1 menyatakan, evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Kenyataannya, selain merampas hak guru melakukan penilaian, UN mengabaikan unsur penilaian yang berupa proses. Selain itu, pada pasal 59 ayat 1 dinyatakan, pemerintah dan pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Tapi dalam UN pemerintah hanya melakukan evaluasi terhadap hasil belajar siswa yang sebenarnya merupakan tugas pendidik.
Ketiga, aspek sosial dan psikologis. Dalam mekanisme UN yang diselenggarakannya, pemerintah telah mematok standar nilai kelulusan 3,01 pada tahun 2002/2003 menjadi 4,01 pada tahun 2003/2004 dan 4,25 pada tahun 2004/2005. Ini menimbulkan kecemasan psikologis bagi peserta didik dan orang tua siswa. Siswa dipaksa menghafalkan pelajaran-pelajaran yang akan di-UN-kan di sekolah ataupun di rumah, sehingga tidak jarang banyak siswa menghalalkan cara yang semestinya salah untuk lulus Ujian nasionl sehingga dari dini kita sadar atau pun tidak sadar telah mengajarkan korupsi kepada generasi baru kita dan lengkaplah sudah mengapa Ujian nasional telah lama sukses merubah siswa – siswa kesayangan negeri ini yang akan meneruskan tongat estafet kepemerintahan menjadi “ Robot – robot yang rakus akan uang”.
Belum lagi bagaimana peran guru terhadap siswa sekarang ini, Ki Hadjar dewantara memberikan pandangannya bahwa seharusnya pendidikan merupakan media kebudayaan yang tersistem dan harus memerdekakan manusia selaku subjek didik sesuai kodratnya. Guru dalam hal idealnya seharusnya bertindak sebagai fasilitator bukan peran dominan mutlak. Artinya, guru bukan menjadi “ Pencipta Robot” dengan memaksa peserta didik untuk menjadi seperti yang mereka inginkan. Dalam pandangan Ki Hadjar dewantara , peserta didik adalah pribadi unik yang masing-masing memiliki bakat dan minatnya. Jadi, tidak seharusnya guru memaksakan para peserta didik mengikuti budaya yang diwariskan ataupun mengikuti ajaran yang sudah jadi. Peserta didik bukanlah sebuah kertas kosong putih bersih yang guru tulusi sesuai kehendanya.
Dilain pihak, tak heran pula bila dikatakan, isi otak para siswa kita telah diinstal ulang seperti layaknya “Robot”, siswa yang sedang tumbuh dewasa yang dimana sedang segar – segarnya menerima informasi di sekolah malah diracuni oleh beberapa informasi tak layak menegenai Negara kita. Mungkin inilah bedanya kita dengan Negara maju Jepang, di jepang sejak Sekolah dasar para pelajar sudah diajari untuk mencintai kebudaayaannya sehingga itu membuat para generasi Negeri maju ini memegang teguh kebudayaan negaranya yang makhsur, sehingga tak jarang disana ditemui pemuda yang rela mati demi negaranya dan kita ? sejak di Sekolah Dasar para siswa telah diperkenalkan oleh keburukan negeri kita dimulai dari seberapa banyaknya oknum yang korubsi, seberapa banyaknya orang miskin di negeri kita dan seberapa banyaknya pegangguran di negeri kita, bagaimana mereka mau mati demi negaranya kalau dihati mereka terisi kebencian akan bumi pertiwinya sendiri.
Sehingga tidak salah ketika pengangguran setiap tahunnya bertambah dan sekarang tercatat pengangguaran sampai Februari 2011 mencapai 8,12 juta belum lagi tercatat para pelajar yang baru saja lulus tahuan ini sehingga tak heran apabila banyak pelajar beramai – ramail ini turun kejalan sambil mengadahkan tangaannya.
Indonesia sekali lagi merupakan Negara yang sangat kaya, 5,8 juta km besarnya laut Indonesia, laut terbesar didunia yang dimiliki oleh sebuah Negara, 60.560.000 hektar besarnya hutan Indonesia, hutan terbesar ke 2 setelah berasil, dan masih lagi banyak kekayaan Indonesia, hal – hal tersebut pastilah sangat cukup untuk memakmurkan rakyat, namun pertanyaannya sekarang, kenapa masih banyak rakyat yang berada pada garis kemiskinan ? karena generasi – generasi baru yang kita harapkan inovatif, kreatif dan fleksibel malah menjadi “ Manusia – manusi Robot “ yang monoton dan kaku, dan bagaimana ketika “ Robot – robot ini jadi pengeloah akan negeri ini ? tahun 1950 hutan Indonesia mencapai 162.290.000 hektar atau 84 % dari daratan Indonesia tertutupi hutan dan sekarang hutan indoensia tinggal 60.560.000 hektar, terjadi penyusutan sebesar 101.730.000 hektar di Indonesia kita ini, dan apakah penyusutan itu berdampak besar terhadap kesejahtraan rakyat, dan jawabannya sekali lagi adalah tidak.
Sistem pendidikan nasional di Indonesia masih perlu dirombak ulang dengan mempertimbangkan kondisi Indonesia agar bisa membentuk watak anak yang mandiri dan kreatif. Pemerintah harus mempertimbangkan biaya pendidikan, bagaimana pendidikan bisa menyenangkan, bagaimana Pendidikan bisa cocok dari sabang sampai maraoke tampa ada satupun daerah yang merasa dikecilkan dan banyak lainnya karena pondasi suatu Negara adalah pendidikannya sehingga Pendidikan bukan menjadikan manusia sebagai “Robot” tapi bagaimana pendidikan mampu membentuk karakter individu yang akan berpengaruh pada karakter bangsa.
Kamis, 16 Juni 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar